Mencari Wajah Baru PKS
Posted on February 5, 2008
Filed Under Uncategorized |
Tidak banyak partai baru yang bisa bertahan dalam era politik “tarung bebas” sekarang ini. Di antara partai politik baru yang mampu bertahan itu, yang paling menarik adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
PKS merupakan partai menarik karena banyak alasan. Pertama, ia besar karena bertumpu pada kemampuan berorganisasi, bukan pada karisma seorang tokoh tertentu. Kedua, ia didominasi anak-anak muda yang rata-rata berpendidikan tinggi dan bersemangat tinggi.
Ketiga, ia berasal dari sebuah gerakan sosial yang kental dengan nuansa agama sehingga disebut juga sebagai “gerakan dakwah”. Keempat, ia (sempat) mewarnai politik Indonesia dengan “politik program” -program bersih dan peduli-, sesuatu yang terasa menyegarkan di tengah politik Indonesia yang didominasi jargon, bahkan tipu muslihat kepada rakyat.
Masa hidup PKS juga menarik untuk dicermati. Masa hidup itu mungkin bisa dibagi ke dalam empat periode besar.
Meminjam periode hidup manusia, mungkin kita sebut periodisasi tersebut sebagai periode kandungan, periode balita, periode remaja, dan periode dewasa muda. Periode kandungan adalah masa-masa ketika PKS belum menjadi partai politik dan masih berbentuk gerakan sosial keagamaan yang disebut Tarbiyah atau Usrah sebagaimana disinggung di atas.
Pada periode itu, banyak kader utama PKS yang masih berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa. Mereka belajar keterampilan di kampus sambil belajar agama di bawah bimbingan para murabbi atau mentor yang membimbing mereka bukan hanya dalam soal kuliah, namun juga karir dan masa depan.
ader-kader muda itu umumnya gelisah dengan nasib bangsa dan kehidupan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim, namun terbelakang. Mereka mencita-citakan masyarakat Indonesia yang maju dalam sains, ekonomi, dan teknologi, namun tetap religius dalam hidup keseharian.
erakan reformasi 1998 membuka peluang bagi kader-kader dakwah itu dari peran-peran yang bersifat sosial keagamaan menjadi gerakan politik. Dimulai dengan kelahiran Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang tiba-tiba jadi organisasi mahasiswa paling solid dan terorganisasi sampai deklarasi Partai Keadilan (PK) yang berpartisipasi dalam Pemilu 1999.
Inilah fase balita dalam hidup PKS. Sesuai dengan namanya, sebagai balita, PK belum bisa bicara banyak dalam perolehan hasil pemilu. Pada 1999 itu, PK hanya mendapatkan 1,4 persen suara nasional.
Meskipun berstatus “partai balita” (partai di bawah lima tahun), PK berhasil menggebrak dan mewarnai “kanvas besar” politik Indonesia. Pada periode 1999-2004, dengan segelintir anggota DPR dan DPRD yang dimilikinya, PK banyak tampil di publik dengan cara dan tata laku politik yang dianggap kontras -setidaknya berbeda dalam arti positif- dengan politisi atau partai politik lain yang lebih dulu dikenal masyarakat Indonesia.
Aneka tata laku yang berbeda itu mulai demonstrasi partai yang tertib dan rapi, sikap antikorupsi, sampai aneka program pro-publik seperti bakti sosial bidang pendidikan, kesehatan, maupun bencana alam.
Dengan “diferensiasi politik” yang demikian, pada Pemilu 2004, PK yang harus berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendapatkan limpahan suara yang sangat signifikan. Suara PKS melonjak dari 1,4 persen menjadi 7,3 persen. Kenaikan suara itu mengakibatkan jumlah anggota DPR/DPRD asal PKS juga melonjak drastis.
Raihan suara yang signifikan di berbagai daerah juga meningkatkan peran politik PKS sehubungan dengan pelaksanaan pemilihan kepala daerah secara langsung, baik dalam kapasitas sebagai kendaraan politik maupun mesin politik calon kepala daerah. Inilah saatnya sang partai balita menjadi partai remaja.
Dalam kamus psikologi perkembangan, masa remaja juga dikenal sebagai masa pancaroba -masa transisi- dari anak-anak ke dewasa. Pada masa itu, remaja mengalami banyak perubahan dan tantangan, baik biologis maupun psikologis.
Kondisi pancaroba itu juga terjadi pada PKS sebagai partai remaja. Kader-kader PKS yang duduk di pemerintahan -baik eksekutif maupun legislatif- adalah orang-orang baru yang sebelumnya tidak atau belum pernah berkarir di pemerintahan. Sampai tataran tertentu, mereka masih “gagap” berpolitik, terutama berhadapan dengan kekuatan-kekuatan politik lain yang sudah lebih mapan.
Contoh-contoh kegagapan politik itu, antara lain, tampak pada kegagalan Fraksi PKS DKI Jakarta menjadikan kadernya sebagai ketua DPRD DKI Jakarta, padahal kursi PKS paling banyak di ibu kota provinsi. Begitu pula gonjang-ganjing politik yang dialami Nurmahmudi Ismail di Kota Depok. Di satu sisi benar bahwa gonjang-ganjing tersebut merupakan kelanjutan dari sengketa pada masa pilkada. Di sisi lain, hal itu juga menunjukkan kekurangterampilan Nurmahmudi sebagai representasi dari PKS untuk membangun konsensus politik dengan kekuatan politik lain. Padahal, dalam posisi sebagai kepala daerah, Nurmahmudi memiliki kapasitas dan sumber daya untuk membangun konsensus tersebut.
Namun, contoh kegagapan yang paling serius kiranya terletak pada berkembangnya pencitraan kekinian PKS sebagai partai yang eksklusif, hanya untuk, bahkan mengusung agenda agama tertentu. Bahkan, dalam pilkada di DKI Jakarta, dikembangkan isu PKS sebagai kelompok Taliban ala Indonesia. Di satu sisi, citra semacam itu mungkin merupakan produk manuver politik dari lawan-lawan politik. Namun, di sisi lain pencitraan tersebut mungkin berasal dari tingkah laku, sikap politik, dan atribut-atribut yang dipakai PKS dan kader-kadernya.
Citra atau atribusi negatif, apalagi “Talibanisme”, sangat tidak menguntungkan PKS, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, PKS akan kesulitan menambah suara, apalagi untuk menjadi partai terbesar di Indonesia, karena pada dasarnya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk dan multikultural. Dalam jangka panjang, citra semacam itu bisa menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial serta politik antara PKS dan kelompok-kelompok masyarakat yang lain.
Karena itu, menjadi menarik bagi kita mengamati kegiatan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PKS yang diselenggarakan di Bali pada 1-3 Februari 2008. Lebih menarik lagi bila kita melihat logo mukernas berupa lambang padi dan bulan sabit emas khas PKS diapit Candi Bentar. Diberitakan, peserta mukernas menggunakan “udeng” atau ikat kepala khas Bali, sementara mukernas itu akan dibantu pengamanan adat Bali. Timbul kesan kuat bahwa dengan pemilihan Bali sebagai tempat mukernas berikut semua atribut yang disebut tadi, PKS ingin membangun citra baru sebagai partai yang akomodatif, toleran, dan bersahabat dengan kelompok agama dan budaya mana pun di Indonesia, khususnya Bali yang didominasi masyarakat beragama Hindu.
Oleh Muhammad Qodari, Direktur Eksekutif Indo Barometer, Jakarta
(Jawapos, Sabtu, 02 Feb 2008)
Semoga kesan yang dibangun PKS dengan mukernas di Bali itu mencerminkan kesadaran politik yang jenuin di kalangan pengurus dan kader.
Comments
12 Responses to “Mencari Wajah Baru PKS”
Leave a Reply

Logo Mukernas
PKS Gelar Mukernas. Baliho Mukernas di depan Hotel Inna Grand Bali Beach menyambut peserta Mukernas PKS yang mulai berdatangan dari berbagai daerah. Mukernas PKS akan berlangsung sejak Jum'at hingga Ahad(1-3 Februari) di Hotel Inna Grand Beach Denpasar, Bali.
dok. detik.com Simpatisan muda PKS menggelar atraksi motor di halaman Hotel Inna Grand Bali Beach, Jumat (1/2)
Falsafah citra baru sebagai partai yang akomodatif, toleran, dan bersahabat dengan kelompok agama dan budaya mana pun di Indonesia itu sudah didengungkan oleh DR. Amien Rais pada Deklarasi PAN pada bulan Agustus 1998, sehingga PAN memperoleh suara bukan tambah meningkat malah tambah turun, Kenapa hal tersebut dipakai PKS untuk Pemilu 2009 ? Jadi menurut perkiraan saya suara PKS akan turun karena kader sangat berat untuk menjual PKS
Hal ini tentu saja jauh berbeda dengan fenomena PAN. PKS adalah partai yang sangat memperhatikan pembinaan kader / kaderisasi. Manuver bahwa PKS menjadi partai terbuka, menurut saya bukan hanya sekedar masalah suara, tapi masalah memperluas jangkauan masyarakat dan tingkat penerimaan mereka, yang pada akhirnya adalah besarnya masyarakat yang akan menjadi kader dan menjalanai kaderisasi partai. Sehingga hal itu tidak hanya menjadi sloga, seperti banyak partai lain, tapi justru menjadi tantangan berat bagi PKS. Internal ke dalam, kader yang sudah ada harus semakin meningkatkan kemampuan mereka, baik kesolidan moral, maupun kesolidan profesionalitas keahlian. Eksternal ke luar, masyarakat akan melihat, apakah produk kaderisasi tersebut akan menjadi manusia yang bermanfaat di masyarakat dan dalam kemajuan bangsa, yakni kader yang bersih, peduli dan kompeten serta profesional, dan pada gilirannya masyarakat akan tertarik menjadi kader PKS, atau minimal menjatuhkan dukungan pada PKS. Also, sangat jauh beda kan dengan yang lain. Mari kita marapatkan barisan dan terus bekerja keras bersama. Dan ingat, ada balasan yang jauh lebih mulia dari sekedar kemuliaan dunia.
Terbukti, sudah terbuka
sudah cukup mengibuli kaum militan yang solid, sekarang terbuka untuk semua.. he he he.
Selamat Berjuang di Pemilu 2009
Indonesia adalah sawah ladang kita, Garapan da’wah kita….
Melihat Indonesia adalah keanekaragaman..multi kultural……
Inilah tes kemampuan tarbiyah,…da’wah Islam….
Seperti Rasulullah beliau disegani oleh semua khalangan…bahkan raja dan kaisar
Mari kita bekerja,menjawab tantangan
Semoga Allah selalu bersama kita….tetap Istiqomah..
Wassalam
Harus didefenisikan scr jelas apa arti partai terbuka tsb, apakah semua warga negara disemua wilayah tanpa melihat agama bisa mencalonkan/dicalonkan menjadi pengurus/aleg dr PKS?? apakah perubahan tsb juga impikasi pada azas , AD/ART,
penjelaskan itu diperlukan untuk memberikan pemahaman terutama kepada kader shg menjadi standart bagi internal
prinsipnya untuk memperluas jangkauan dan peran adalah suatu keharusan tetapi tidak dg meninggalkan pondasi-pondasi dasar yg sudah terbangun
partai terbuka? kenapa tidak. tentu ada yang tidak setuju. tapi bukan masalah setuju atau tidak setuju. lebih pada tangkapan kita pada tantangan dakwah di era global ini. dengan modal kebijakan para sesepuh, dan semangatnya kaum muda sebagai fusi energi yang insyaallah akan menghasilkan ‘ledakan’ yang dahsyat, amin.
assalamu’alaikum
ya tentunya perluasan dakwah tetap memperhatikan pondasi2 dasar bro.dalam dakwah pks kan ada tsawabit maupun mutaghayirat. semua sdh jelas itukan. jadi jangan asal ceplas ceplos klo belum tahu belum paham denganmanhaj dakwahPKS.
rabbb jagalah kami semua dari azabMU
amin.
wassalamu’alaikum
Anak Balita ini sekarang Umurnya 9 tahun lebih 6 bln ,semasa balita sdh dikenal sebagai anak yg dpt dipercaya ,jujur, dan sholeh dan sholehah sehingga sdh dikenal di Indonesia dalam masa balitanya mencapai 8 % dan sekarang menuju Umurnya menjelang dewasa Sianak mulai menunjukkan jati dirinya yang elegan,pluralis,mempunyai jiwa sosial yg tinggi dan tetap sholeh dan sholehah ,komitmen ini selalu dipegang oleh sianak dari nasihat orang tuanya dan guru agamanya dalam menghadapi kehidupan ini,dan selalu menyebarkan nasihat-nasihat yg benar kepada manusia.Dalam Usia nya yg menjelang dewasa ini sianak mulai membuat langkah kedepan bahwa dirinya harus berguna kepada Umat manusia ,harus memperhatikan situasi sosial masyarakat dan menyebarkan nasihat kebenaran kepada masyarakat.Cita-cita sianak bisa memimpin didaerahnya dan negeri ini,hal yg perlu diperhatikan sang anak bahwa sianak harus tetap menyebarkan nilai-nilai kebenaran dan tetap memperhatikan kondisi sosial masyarakat ,sianak harus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dgn membuat Pengajar ketrampilan dibidang apapun sesuai dgn bidangnya sehingga masyarakat bisa mandiri dan siap mengahadapi perekonomian kedepan.
Semoga cita-citanya tercapai.
wasalam
Semoga apa-apa yang dihasilkan dalam mukernas untuk lebih terbuka dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat dapat benar2 terwujud… Amien
Akh fillah tanpa kita sadari banyak masyarakat umum maupun yang termarginalkan itu mengamati segala tindakan kita. Sejauh yang ana tau mereka banyak berharap dengan PKS bahkan sampai saat ini.Jadi dengan dikuatkannya dengan keputusan mukernas tersebut maka tidak ada alasan lagi bagi setiap kader dan pengusung dakwah baik dari tingkat pusat sampai bawah untuk tidak bersegera bangun dan berbaur dengan semua masyarakat lingkungannya.. Bukankah Islam rahmatan lil alamin, bukankah dalam politik suara orang yang baik sama nilainya dengan suara siapapun…??
Wallahu alam
So.. just keep… Lebih Bersih, lebih peduli dan lebih Profesional
Wassalam
Keberagaman adalah fitrah yang tidak bisa dinafikan keberadaanya. termasuk di Indonesia, PKS harus siap melayani seluruh bagian masyarakat indonesia, hatta yang non muslim sekalipun. saya rasa untuk di bali yang penduduknya mayoritas hindu, ataupun ntt yang mayoritas penduduknya kristen tidaklah menjadi masalah jika caleg dari golongan mereka, senyampang masih mewakili golongan mereka sendiri. Lagi pula saya yakin pasti DPD/DPW PKS pasti akan melakukan kontrak politik yang jelas ada “hitam diatas putih”.
Selmat berjuang PKS. Allahu Akbar
itulah indahnya berdakwah melalui politik…
satu hal yang akan senantiasa ada di tubuh gerakan dakwah ini, yaitu konsistensi untuk maju.
Tiada kata lagi…. kita harus berjuang
Allah Bersama orang2 yang berjuang dijalan-Nya.