PKS, Bersih, Peduli dan….. Terbuka

Posted on February 5, 2008
Filed Under Uncategorized |

Pagi ini ada acara penting yg harus saya hadiri, sosialsiasi program”al-akh al Jadid” yg diselenggarakan oleh DPC. Bergegas saya pacu kuda besi menuju lokasi acara bersama istri dan dua gadis kecil sy yg cantik. Begitu kami tiba, kumandang taujih robbani baru saja dibacakan didiiringi kekhusukan para ikhwah mendengarnya. Duduk di depan seorang masyaikh da’wah,tokoh partai yg menjadi min awail da’wah ini yg akan menyampaikan taujihnya,beliau adalah Ustadz Aus Hidayat Nur. Kang Aus,begitu beliau biasa disapa sejurus kemudian mulai berbicara. Dalam taujih itu pula beliau membocorkan pula rencana DPP mengadakan Mukernas. Berikut saya tuliskan dari apa yg beliau sampaikan seputar Mukernas tersebut.

Selama 3 hari, mulai tanggal 1 hingga 3 Februari nanti akan ada hajatan akbar yang digelar oleh PKS yaitu Musyawarah Kerja Nasional atau Mukernas. Kegiatan ini menjadi penting selain sebagai ajang konsolidasi annual seluruh elemen partai sampai tingkat daerah juga sebagai ajang reorientasi strategi dan arah bandul pergerakan partai da’wah ini. Yang lebih menarik dari Mukernas ini adalah pemilihan tempat Mukernas yaitu di Bali. Tak sedikit yang terheran-heran,termasuk pula dari kalangan internal kader PKS mengapa Partai Da’wah ini menyelenggarakan Mukernas di pulau yang sejak dulu dikenal sebagai basis suara si moncong putih itu.

Berbagai hal terkait Mukernas dipertanyakan,yang paling umum yg mengemuka misalnya; apa gak adatempat lain? itu khan tempatnya orang Hindu!, banyak maksiat, sampai kekhawatiran adanya ritual ibadah hindu yg mungkin saja menghiasi Mukernas tsb. Pertanyaan-pertanyaan tsb wajar saja sebagai wujud perhatian mereka akan citra PKS yg selama ini relatif terjaga dibandingkan dengan Partai politik lainnya.

Awalnya bahkan sempat terjadi tarik ulur karena adanya penolakan sebagian kader, padahal rencana Mukernas sudah disampaikan kepada ikhwah di Bali dan pemerintah daerah setempat. Ikhwah di Bali tentu saja begitu kecewa ketika mereka di telpon kembali mengabarkan sepertinya DPP tdk jadi Mukernas di Bali. Tahukah kita apa yg mereka katakan? “ Antum menyuruh kita tinggal di Bali, menyuruh kita berda’wah di tempat yg penuh maksiat, tapi Antum berkunjung saja tidak mau” Subhanallah… begitu tersentak ikhwah di Jakarta yg tadinya ngotot menolak Mukernas di Bali mendengar jawaban tadi dan mereka segera berubah pendapat. Dan memang di Bali, ada saudara-saudara kita seperjuangan yg gigih berda’wah ditengah kaum mayoritas Hindu. Sebut saja misalnya Ust. Abdullah Baharmus yg sudah sejak kakek neneknya berda’wah, membangun pesantren di Bali.Harusnya kita bercermin dan meneladani gigihnya da’wah mereka.

Soal banyaknya kemaksiatan dan tempat-tempat maksiat,itu sih insya Allah mudah diantisipasi. Seorang kader partai da’wah sejatinya mempunyai mana’ah (imunitas)yg sudah terbina. Lagian wong Mukernas itu kan rame-rame, padat kegiatannya, masa iya kecenderungan untuk sekedar melihat fenomena kemaksiatan disana itu muncul. Gak usah jauh-jauh di Bali, disekitar kita pun tempat-tempat maksiat dengan mudah ditemui.

Bahkan Mukernas ini diharapkan menjadi titik awal strategi PKS untuk menjadi Partai terbuka, ekspansif ke seluruh lapisan masyarakat, diterima semua kalangan, menghormati pluralitas (bukan pluralisme), dapat berbaur dengan budaya setempat (para peserta mukernas rencananya akan mengenakan udeng atau ikat kepala khas Bali,dan ini sudah diteliti bahwa udeng tsb tidak ada kaitannya dengan ritual agama hindu) bahkan sampai pada tingkat menerima keanggotaan non muslim sekalipun. Sehingga mukernasdi Bali dapat dijadikan marketing strategi bagi liputan media serta penyebarluasan jargon partai terbuka tadi. Meskipun seperti disitir Ust.Hidayat Nur Wahid, bukan jargon Partai terbukanya yg diutamakan, melainkan komitmen dan konsistensi partai pada kepentingan rakyat. Sebab menurut beliau walaupun suatu partai menjadi partai terbuka tapi tidak punya kepedulian dan komitmen pada rakyat jelas partai tsb akan tetap ditinggalkan. Dan kita sudah memupuk modal komitmen dan konsistensi kita akan kepentingan rakyat melalui jargon bersih dan peduli sejak beberapa tahun lalu.

Akhirnya selamat bermusyawarah, hasilkan harapan-harapan demi bangkitnya negeri ini sebagaimana tema Mukernas:”BANGKIT NEGERIKU,HARAPAN ITU MASIH ADA”

Dikirim Via Email Oleh Jundi Ilahi

Comments

11 Responses to “PKS, Bersih, Peduli dan….. Terbuka”

  1. abumaisan on February 5th, 2008 2:24 pm

    Subhanallah bocoran yang membuat hati lapang, ridho dan semakin tsiqoh pada para qiyadah. Tentang mengapa PKS diBali dan tentang esensi yang diingatkan DR. Hidayat daripada brand belaka. Jazakallah…

  2. Emtezet on February 6th, 2008 10:41 am

    Akh Abumaisan, yg ngasih taujih pada artikel di atas adalah Kang Aus Hidayat Nur (salah satu pengurus DPP PKS), bukan Dr Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR). Namanya memang mirip sih… ;-)

  3. arkiyan on February 6th, 2008 8:50 pm

    subhanallah juga. sempat trenyuh membaca jawaban ikhwah Bali tadi.memang benar klo dikatakanBali tempat maksiat, sebenarnya dimanapun juga ada maksiat tinggalkita sj sejauh mana imunitas dlm menghadapi itu semua.
    semoga ALlah menjaga keteguhan kita dlm dakwah ini bersama jamaah dakwah ini.
    amin

  4. pengembara web on February 6th, 2008 8:55 pm

    berkunjung kan enggak harus dengan Mukernas

  5. Aqil on February 9th, 2008 4:00 pm

    Mudah-mudahan para kader lebih bijak lagi dalam menanggapi ‘isu’ yang saat ini sedang berkembang.,Insya Allah Qiyadah kita melakukan hal yang terbaik buat umat & bangsa ini.

  6. kader on February 10th, 2008 3:58 am

    “TERBUKA” bukannya dah diralat????:)
    esperimen politik sah-sah saja kan??he..he…

  7. M. Kautsar on February 11th, 2008 8:31 am

    Kan diralat karena banyak suara sumbang, maka itu para qiyadah itu jangan asbun kalau bicara

  8. riko on February 11th, 2008 3:40 pm

    untuk M. Kautsar,sebaiknya anda beli buku dan beli cermin.

  9. M. Kautsar on February 11th, 2008 5:16 pm

    Isu Partai Terbuka, Gejolak Kaum Muda di PKS
    Indra Subagja - detikcom

    Aceh - Petinggi PKS gerah. Bukan tanpa sebab, isu PKS menjadi partai terbuka seolah menjadi duri. Alih-alih menangguk pemilih baru, suara tradisional dari kaum muslim justru terancam lepas.

    Dalam pertemuan dengan berbagai elemen kader partai bulan kembar ini, di berbagai wilayah yang dikunjungi tim safari dakwah, Presiden PKS Tifatul Sembiring menuai banyak protes.

    Bahkan seperti yang diutarakan seorang pria paruh baya di Pekanbaru, Riau, dia mengaku tidak akan memilih PKS bila partai ini menjadi terbuka.

    “Alasan saya memilih PKS adalah partai ini berlandaskan Islam,” tutur pria itu.

    Berkali-kali diberbagai kesempatan, Tifatul pun menegaskan kembali jati diri partainya. Sejak awal keberangkatan safari dakwah pada 6 Februari 2008 lalu, hingga di setiap kota yang disambangi mulai dari Pekanbaru, Medan, hingga Banda Aceh.

    “Tidak ada wacana seperti itu. Awalnya itu usulan dari beberapa teman-teman yang tinggal di minoritas muslim seperti Papua, NTT, dan Bali,” jelas Tifatul. Hal ini kembali ditegaskannya di Banda Aceh, NAD, Senin (11/2/2008).

    Sejatinya isu partai terbuka ini muncul dari suara-suara kaum muda PKS di Bali, saat Mukernas 1-3 Februari. Isyarat terbuka didengungkan oleh Sekjen PKS Anis Matta, dan Wasekjen Fachri Hamzah.

    Kaum muda ini, atau yang sering disebut-sebut kalangan moderat PKS ini pun didukung pula oleh beberapa nama lainnya. Dan yang mengejutkan Tifatul pun mengakui hal ini, bahkan menyebutkan jumlahnya.

    “Anak muda ada 5 orang, bahkan mantan BEM UI, senat UI ada di PKS sekarang. Jadi kita tidak mungkin menutup mulut mereka,” jelas Tifatul yang digolongkan kedalam blok kaum tua bersama Hidayat Nur Wahid.

    Apakah ini pertanda perpecahan di dalam partai yang dikenal dengan militansinya. Hal ini tegas-tegas ditepis sang pemimpin.

    “Tidak ada kubu-kubuan di PKS. Yang ada adalah syuro jadi semua keputusan dari majelis syuro,” jelas Tifatul.

    Sedang Hidayat ketika ditanya soal kubu-kubuan justru enggan berkomentar. “Itu urusan partai, silahkan tanya ke presiden,” ucapnya dalam sebuah kesempatan.

    Komentar sedikit terang datang dari Ketua Wilda Sumbagut DPP PKS Chaerul Anwar. Dia secara tersirat mengakui hal ini.

    “Ya ini kan bagian dari dinamika politik,” ucap salah satu anggota dewan syuro ini.

    Bukan hanya sekali saja memang kaum muda ini mencuri start. Beberapa waktu lalu soal maaf memaafkan Soeharto, Fachri Cs disebut-sebut melakukan gerakan inkoordinasi.

    Alhasil pihak DPP PKS segera mengambil tindakan. Dan yang terakhir isu partai terbuka ini, yang berujung pada pernyataan ralat berulang kali di berbagai kesempatan, bahkan iklan di sebuah harian nasional.

    Bisik-bisik di partai ini terkait ‘pergolakan’ ini memang cukup keras. Bahkan seorang kader menyebutkan akan ada tindakan yang diambil pihak partai terhadap kadernya yang sedikit mbalelo.

    “Tinggal tunggu waktunya saja, masih dipelajari,” ucap sumber yang duduk di penegakan disiplin partai tersebut.

    Lalu akankah partai ini tetap solid. Chaerul, memastikan bahwa partai ini tidak akan bernasib seperti PDIP dengan PDP-nya, PPP dengan PBR-nya dan lainnya.
    ( ndr / ana )

  10. abumaisan on February 12th, 2008 11:26 am

    Akh Emtezet baca lagi paragraf 6 baris 8
    …. Meskipun seperti disitir Ust. HNW … Hayooo bacanya kurang nyantei ya… Lam Kenal !

  11. Emtezet on February 12th, 2008 4:25 pm

    oh… ;-) Afwan, akh abumaisan, iya nih bacanya kurang nyantai. Lagi deg-deg an antara “terbuka” dan “tertutup”. Tapi alhamdulillah, hati ini adem ayem lagi setelah ada bayanat…

    BAYAN (Penjelasan)
    Seputar isu-isu yang berkembang sebelum, menjelang dan sesudah Musyawarah Majelis Syuro IX dan Mukernas PKS di Bali

    Assalamu’alaikum wr wb,
    Bismillahirrahmanirrahim

    Setelah mendengar dan melihat berkembang dan banyaknya isu-isu di masyarakat, terutama melalui media massa, elektronik dan internet, khususnya menjelang, ketika dan sesudah berlangsungnya Musyawarah Majelis Syuro IX dan Mukernas PKS di Bali, khususnya mengenai jati diri PKS dan prinsip-prinsip PKS yang pemaknaannya simpang siur. Untuk jelasnya maka DPP perlu memberikan BAYAN (Penjelasan) hasil-hasil MMS IX dan Mukernas di Bali, sebagai berikut:

    1. Mengenai Slogan PKS.
    Slogan Resmi PKS sesuai keputusan Musyawarah Majelis Syuro PKS ke VII di Jakarta, yang dikuatkan kembali dalam Musyawarah Majelis Syuro PKS IX di Bali adalah: Bersih, Peduli dan Profesional.

    Bersih menegaskan aspek moral/ kesalehan pribadi, maksudnya mewujudkan para pemegang amanah jabatan yang anti KKN. Peduli merupakan aspek sosial, kesalehan sosial, kepedulian kita kepada kaum dhu’afa dan terhadap para korban bencana. Profesional adalah kesalehan profesi, memiliki core competency, open mind sehingga berdaya manfaat bagi posisi jabatan yang diamanahkan.

    Slogan adalah jati diri PKS yang merupakan kristalisasi nilai-nilai dan perilaku yang merupakan aset dakwah.

    Penjelasan lebih rinci mengenai hal ini dijabarkan dalam Buku Platform Pembangunan PKS yang telah resmi disahkan.

    2. Mengenai istilah “Terbuka”.
    Istilah “Terbuka” TIDAK PERNAH menjadi keputusan sebagai slogan, baik oleh sidang-sidang Majelis Syuro, Dewan Pimpinan Tinggi Partai (DPTP) maupun dalam Khitob Qiyadi (arahan pimpinan).
    PKS tetap sebagai partai dakwah yang berazaskan Islam, memiliki moral Islam, dan syariat Islam wajib dijalankan dengan konsisten oleh setiap pemeluk agama Islam, terutama kader-kader PKS. Sebagaimana kami juga menginginkan setiap pemeluk agama lain juga taat menjalankan agama masing-masing, sebagai kontrol moral yang kuat terhadap pribadi seseorang. PKS tetap konsisten menjadi Partai Dakwah yang merupakan rahmatan lil’alamiin.

    Adapun istilah terbuka sebagai usulan, wacana dan beberapa wawasan yang disampaikan oleh para kader dari daerah minoritas, sedang kami kaji dan dalami, apakah hal ini layak untuk di ambil sebagai bahan pertimbangan, yang pada akhirnya nanti akan dibahas dalam sidang-sidang Majelis Syuro mendatang. Mengenai keterbukaan komunikasi adalah merupakan keniscayaan dan tuntutan profesionalitas.

    3. Sehubungan dengan point (1) dan (2) tersebut, maka seluruh jajaran struktur, pengurus dan kader diinstruksikan supaya tidak lagi mewacanakan isyu ”partai terbuka” untuk menghindari madharat yang lebih besar daripada kemaslahatan yang diharapkan.

    4. Mengenai Caleg dan Pengurus Non Muslim
    Setiap warga negara dapat menjadi Caleg (calon legislative) atau Pengurus PKS dengan memenuhi persyaratan dan prosedur yang telah ditetapkan oleh ketentuan dan aturan resmi PKS. Hal ini telah termuat dalam AD/Art PKS, standar mutu kader PKS sesuai peringkatnya serta Panduan Pencalonan anggota Legislatif yang telah disahkan oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) dan disetujui oleh Dewan Pimpinan Tingkat Pusat (DPTP).
    Untuk daerah-daerah basis non muslim (kekhususan) seperti Irian Jaya, NTT atau Bali, caleg non muslim dimungkinkan selama tidak melanggar syari’at dan dalam rangka mewakili komunitas non muslim dan hal ini dilakukan secara proporsional. Jangan sampai keinginan kita untuk memperluas dukungan dari kalangan non muslim –jumlah total hanya sekitar 10%–menyebabkan hilangnya basis massa muslim PKS (captive market).
    Mengupayakan dukungan dari kalangan non muslim kepada PKS adalah dimungkinkan, selama tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang ada.

    Demikianlah Penjelasan ini kami sampaikan, semoga dapat menjadi jawaban maupun bekal bagi seluruh pengurus dan kader Partai Keadilan Sejahtera.

    Tertanda,
    Presiden PKS, Tifatul Sembiring
    Ketua DSP, Surahman Hidayat
    Ketua MPP, Suharna Surapranata

Leave a Reply